GUMILANG CANDRE PURNAME

 Gumilang Candre Purname: Etos Pemuda Sasak

Oleh: R. Nune Syahroni


Konsep Gumilang Candre Purname (bagaikan bulan purnama) dapat dipahami sebagai konstruksi simbolik yang merepresentasikan tipologi ideal kepemudaan dalam khazanah budaya Sasak. Bulan purnama, dalam banyak tradisi kosmologis Nusantara, dimaknai sebagai simbol kesempurnaan cahaya di tengah gelapnya malam. Ia bukan sekadar fenomena alam, melainkan metafora etis yang mengandung pesan tentang peran sosial, kematangan spiritual, serta tanggung jawab moral.


Dalam perspektif akademik, metafora ini mencerminkan ekspektasi kolektif masyarakat terhadap pemuda sebagai moral force dan social control. Pemuda tidak hanya diposisikan sebagai agen perubahan struktural, tetapi juga sebagai subjek kultural yang memikul beban nilai dan norma sosial. Cahaya bulan purnama melambangkan kemampuan untuk memberi orientasi (direction), menciptakan ketenangan (stability), dan menumbuhkan harapan (optimism) dalam dinamika sosial yang kompleks.


Sifat ksatria yang dilekatkan pada metafora tersebut perlu dimaknai secara substantif. Dalam konteks Sasak, ksatria bukan semata identik dengan keberanian fisik, melainkan keberanian etis—yakni konsistensi dalam menjaga prinsip, keteguhan dalam menegakkan kebenaran, serta kesiapan memikul tanggung jawab sosial. Dengan demikian, kepemudaan tidak berhenti pada aspek biologis atau demografis, tetapi bertransformasi menjadi kategori moral dan kultural.


Nilai ini memiliki koherensi dengan istilah-istilah kunci dalam falsafah Sasak.


Pertama, "Tindih" merepresentasikan dimensi etika dan kesantunan sosial. Ia menuntut keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan, antara otoritas dan penghormatan. Pemuda yang menginternalisasi "tindih" akan menampilkan kepemimpinan yang berwibawa tanpa kehilangan sikap rendah hati. Dalam kerangka sosiologis, ini membentuk pola relasi sosial yang harmonis dan berkeadaban.


Kedua, "Maliq dan Merang" menegaskan batas-batas moral dan pentingnya menjaga kehormatan diri. "Maliq" berfungsi sebagai sistem nilai yang mengatur apa yang patut dan tidak patut dilakukan, sedangkan "Merang" berkaitan dengan martabat personal dan kolektif. Dalam konteks ini, pemuda sebagai representasi generasi penerus harus mampu menjaga integritas diri agar tidak terjebak dalam degradasi moral yang dapat merusak kehormatan komunitas.


Dengan demikian, Gumilang Candre Purname dapat diposisikan sebagai paradigma etis dalam pembentukan karakter pemuda Sasak. Ia menuntut sintesis antara keberanian dan kebijaksanaan, antara idealisme dan tanggung jawab sosial, serta antara identitas kultural dan dinamika modernitas. Dalam era globalisasi yang cenderung mengikis akar tradisi, falsafah ini berfungsi sebagai fondasi normatif untuk memastikan bahwa pemuda Sasak tetap berakar pada nilai lokal sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMUDA SASAK INDONESIA